Home » » Isa Almasih, dan Hancurnya Kahyangan Tengguru

Isa Almasih, dan Hancurnya Kahyangan Tengguru

Written By Freshly Michelangelo on Rabu, 21 Maret 2012 | Rabu, Maret 21, 2012

Apa itu Kahyangan Tengguru?


Sebelum kahyangan tengguru, ada dikenal tempat para dewa/jin di dunia ini, disebut Pulau Dewa. Pada masa Nabi Sulaiman, pulau dewa dipimpin oleh Sanghyang Wenang, yang dipertuhankan oleh seluruh jin di pulau tersebut. Nabi Sulaiman, pemimpin bangsa manusia, jin dan binatang, merasa heran karena bangsa jin pengikutnya banyak yang berkurang.

Dia pun mengetahui bahwa jin tersebut banyak yang beralih mengabdikan diri kepada Sanghyang Wenang di Pulau Dewa. Sulaiman marah, apalagi setelah itu Sanghyang Wenang mencuri pusaka cincin maklukat yang diberikan Tuhan kepada Nabi Sulaiman, walau cincin tersebut kembali juga ke tangannya atas petunjuk Tuhan.

Sulaiman kemudian memerintahkan para prajuritnya dari bangsa manusia untuk memasang tumbal di segenap penjuru Pulau Dewa. Tujuh hari kemudian Pulau Dewa meledak. Pulau yang semula berjumlah dua yaitu Lakdewa dan Maldewa tersebut akhirnya pecah menjadi ribuan pulau kecil. Para jin berhamburan karena bencana yang terjadi. Sementara Sanghyang Wenang sekeluarga memutuskan untuk mengungsi ke dasar bumi.

Beberapa tahun kemudian, setelah Nabi Sulaiman meninggal dunia, Sanghyang Wenang kembali muncul di permukaan. Karena keadaan Pulau Dewa telah hancur lebur, Sanghyang Wenang memutuskan untuk membangun kahyangan baru di puncak Gunung Tengguru di wilayah Pegunungan Himalaya, yang diberi nama Kahyangan Tengguru.

Selanjutnya Kahyangan Tengguru dipimpin oleh dua keturunan berikutnya, hingga sampailah kepada Batara Manikmaya bertakhta di kahyangan tersebut. Batara Manikmaya memiliki kendaraan seekor sapi bernama Lembu Andini, yang sebelumnya lembu tersebut dipertuhankan oleh raja yang bernama Prabu Japaran dan rakyatnya, yang tinggal di kaki Pegunungan Himalaya. Lembu tersebut takluk oleh kesaktian Batara Manikmaya, sehingga Lembu Andini tunduk dan mengabdi kepadanya. Semua orang yang sebelumnya menyembah Lembu Andini, sujud menyembah Batara Manikmaya. Yang menyembah Batara Manikmaya pun semakin banyak hingga wilayah Tibet dan Cina. Karena berkahyangan di Gunung Tengguru, Manikmaya pun dijuluki oleh para pemujanya sebagai Batara Tengguru, atau lebih dikenal sebagai Batara Guru.

Batara Guru dan isterinya Batari Uma, mempunyai 5 orang putera, yaitu para dewa yang terkenal dalam kisah Hindu.
  • Pertama, lahir seorang putera yang kelahirannya disertai bau harum semerbak ke seluruh alam. Putera pertama ini diberi nama Batara Sambu.
  • Dua tahun kemudian Batari Uma melahirkan putera kedua yang disertai api besar menyala-nyala, menjilat ke angkasa. Putera kedua ini diberi nama Batara Brahma.
  • Dua tahun kemudian Barati Uma melahirkan putera ketiga yang disertai hujan deras dan gempa bumi di berbagai belahan dunia. Putera ketiga ini diberi nama Batara Indra.
  • Dua tahun kemudian Batari Uma melahirkan lagi seorang putera yang disertai angin dahsyat menerjang alam semesta. Putera keempat ini diberi nama Batara Bayu. 
Keempat puteranya tersebut lahir dari hasil perkawinan Batara Guru dan Batari Uma dengan cara perkawinan layaknya manusia. Sanghyang Padawenang (ayah Batara Guru) pun berpesan, bahwa jika terus-terusan berputera seperti layaknya manusia, maka ia tidak akan memiliki putera yang sakti yang memiliki kelebihan di alam semesta. Jika ingin memiliki putera yang bisa diandalkan, maka harus ditempuh dengan cara hening, bukan melalui olah asmara seperti manusia biasa, tetapi menggunakan ilmu asmaracipta, asmaraturida, dan asmaragama.

Setelah mendapatkan nasehat tersebut, Batara Guru dan Batari Uma segera memuja samadi, mengheningkan cipta bersama. Kemudian mereka menyatukan rasa melaksanakan ilmu asmaracipta dan yang lainnya.

Tidak berapa lama kemudian Batari Uma mengandung, dan setelah tiba waktunya lahirlah bayi yang diliputi misteri. Kelahirannya disertai bencana alam melanda di seluruh dunia. Hujan deras disertai petir menyambar-nyambar. Gunung meletus, gempa bumi, badai topan, dan lain sebagainya. Para Raja pemuja Batara Guru berjatuhan dari singgasana masing-masing, dan langsung menyembah. Bahkan Batara Guru sendiri yang saat itu sedang duduk di takhta Madeprawaka juga ikut roboh.

Bersamaan dengan itu terdengarlah suara gaib yang menyebutkan bahwa, putera kelima yang baru lahir itu supaya diberi nama Batara Wisnu. Ia akan menjadi dewa paling sakti di antara para dewa lainnya, yang akan menjadi pelindung alam semesta beserta isinya. Begitu bahagia Batara Guru mendengar suara gaib tersebut. Ia pun menyayangi Batara Wisnu melebihi putera-puteranya yang lain.



Berperang dengan Bangsa Bani Israil

Walau kekuasaan Batara Guru semakin besar, tetap saja ada rasa tak puas menggerayangi benaknya karena negeri Bani Israil, negeri Nabi Sulaiman dulu, menolak memujanya. Dan ajaran agama mereka sangat mengharamkan apa itu yang disebut berhala dan dewa-dewa. Mereka hanya menyembah satu Tuhan, yaitu Yahwe/Allah.

Sudah berkali-kali para dewa diutus ke sana untuk menyampaikan ajaran kahyangan tengguru, namun selalu mengalami kegagalan. Berbagi cara telah dilakukan antara lain menggunakan ilmu kesaktian namun tetap saja tak berhasil.

Bahkan wabah penyakit yang dibuat untuk melanda negeri Yahudi dan Ibrani tempat bangsa Bani Israil tinggal, sirna karena bangsa Bani Israil tetap tegih dan tekun berdoa. Batara Guru pun memutuskan untuk menundukkan bangsa itu dengan jalan peperangan. Batara Ramayadi (mpu kahyangan) dan puteranya Batara Anggajali pun segera menciptakan berbagai senjata dan peralatan perang, atas perintah Batara Gutu.

Mereka menciptakan senjata dengan pijatan tangan dan kaki mereka, dan tahap akhirnya mereka sepuh dengan jilatan lidah. Senjata yang diciptakan antara lain Alugara, Musala, Kunta, Trisula, Cakra, Nanggala, dan Limpung.

Senjata itu pun diberikan kepada Batara Guru yang dengan gembira membagikannya kepada para dewa serta memerintahkan untuk menyerang bangsa Bani Israil. Perang besar pun terjadi, dan bangsa Bani Israil mengalami kekalahan besar. Sisanya mengungsi ke hutan-hutan dan pegunungan, yang nantinya akan kembali pada zaman zionisme.

Namun di tengah puncak kemenangannya, Batara Guru mendapat bisikan gaib, bahwa tidak sepantasnya ia memaksakan bangsa Bani Israil menyembahnya. Mereka ditakdirkan hanya menyembah Yahwe, yang bahkan akhirnya menjadi agama terbesar di dunia. Sebaliknya kelak akan lahir di antara bangsa itu seorang pemimpin suci yang menentang ajaran kahyangan Tengguru.
Mendengar petunjuk tersebut, Batara Guru gelisah hatinya namun tak kuasa membantah. Ia memanggil pasukannya untuk kembali ke kahyangan.

Beberapa tahun kemudian, sabda gaib itu menjadi kenyataan. Di tengah bangsa Bani Israil lahir seorang putera dari rahim seorang gadis bernama siti Mariam. Putera tersebut diberi nama Isa. Ketika Isa berumur satu bulan, Batara Guru dan kelima puteranya mendatanginya tanpa menunjukkan wujud.

Batara Guru merasa heran ketika melihat bayi Isa yang dulu pernah diramalkan akan membuatnya terusir dari Tengguru ternyata tidak menunjukkan keistimewaan apapun. Isa masih digendong ibunya, tidak seperti dirinya yang waktu masih bayi dulu sudah bisa terbang. Tiba-tiba keajaiban terjadi. Kaki kiri Batara Guru mendadak lumpuh, beruntung ia bisa terbang dan juga mempunyai kendaraan berupa Lembu Andini.

Batara Guru dan kelima puteranya sangat terkejut. Ia mengakui bahwa Isa benar-benar bayi yang diramalkan oleh sabda gaib dahulu. Ia memutuskan untuk kembali ke kahyangan dan menunggu datangnya peristiwa itu.

Putera kelima Guru, yaitu Batara Wisnu sesungguhnya menerima ajaran Isa nantinya. Batara Wisnu bahkan mengikuti dan menjadikan ajaran Isa sebagai pedoman hidupnya. Ini dapat dicermati dari kisah Jaka Sengkala, putera dari Batara Anggajali, anak Batara Ramayadi (mpu kahyangan). Jaka Sengkala ingin berguru kepada Batara Wisnu, selaku dewa paling sakti di kahyangan. Namun, Batara Wisnu justru menjelaskan bahwa di dunia ini tidak ada yang memiliki kesaktian sempurna. Menurutnya, yang paling sempurna hanya Tuhan Yang Maha Esa. Maka Jaka Sengkala pun memutuskan untuk mencari di mana Tuhan berada dan berguru kepadaNya.

Batara Wisnu menjelaskan bahwa Tuhan itu tidak terbatas ruang dan waktu. Untuk mendekatkan diri dengan Tuhan yang diperlukan adalah ilmu kesempurnaan hidup, yaitu ilmu tentang asal dan tujuan kehidupan (yang merupakan ajaran Isa). Menurutnya, jika Jaka Sengkala ingin memiliki ilmu itu harus belajar pada sahabatnya yang bernama Pandita Usmanaji.

Akhirnya Jaka Sengkala berhasil bertemu Pandita Usmanaji yang tinggal di negeri Bani Israil. Kepadanya ia berguru ilmu kesempurnaan hidup sesuai ajaran Isa. Semakin lama ia semakin larut dalam pelajarannya. Pada puncaknya, Jaka Sengkala meminta untuk dipertemukan dengan Isa.

Pandita Usmanaji menolak permintaan tersebut karena Jaka Sengkala tidak ditakdirkan bertemu dengan Isa, tetapi kelak ia akan bertemu dengan Muhammad, yang kelahirannya masih 500 tahun lagi, namun Jaka Sengkala ditakdirkan bisa mendapatkan air ajaib Tirgtamarta Kamandalu sehingga bisa hidup abadi dan berumur panjang.



Hancurnya Kahyangan Tengguru


Alkisah, Isa putera siti Mariam telah tumbuh menjadi seorang pemuda berusia delapan belas tahun. Sejak lima tahun yang lalu ia ikut kerabatnya berdagang di tanah Hindustan. Di sana ia belajar tentang samadi dan tata cara menyembah Tuhan.

Isa memiliki kepandaian di atas rata-rata manusia biasa. Dalam waktu singkat ia telah menyerap semua ilmu yang dipelajarinya bahkan, pengikutnya bertambah banyak. Diantaranya adalah orang-orang yang tidak mau tunduk dan menyembah Batara Guru.

Pada suatu hari di usianya yang menginjak 18 tahun itu, para pengikutnya memohon supaya Isa menindak tegas para dewa yang dikepalai Batara Guru itu, karena mereka menyebarkan ajaran yang mereka anggap sesat. Antara lain, penduduk Hindustan banyak yang mempertuhankan Batara Guru. Sangat bertentangan dengan ajaran Isa yang mengenal hanya ada satu Tuhan yaitu Yahwe.

Isa menolak permohonan itu, namun para pengikutnya terus saja mendesak. Ia pun mengheningkan cipta memohon petunjuk kepada Tuhan apa yang seharusnya dilakukan.

Tuhan mengijinkan Isa untuk memberi pelajaran kepada para penghuni kahyangan Tengguru. Maka Isa mengambil segenggam tanah liat, meniupkan nafas ke tanah tersebutdan melemparkannya ke angkasa. Tanah liat itu terbang berubah menjadi burung merpati. Burung tersebut diperintahkannya untuk memberi pelajaran kepada Batara Guru yang berkahyangan di puncak Himalaya.

Burung itu datang ke kahyangan Tengguru. Menyadari gelagat yang kurang baik, Batara Guru pun memerintahkan para prajurit untuk menangkap burung itu, namun tidak ada yang mampu. Burung itu bisa berbicara dan mengaku sebagai utusan Tuhan untuk menghukum Batara Guru.

Batara Guru murka dan memerintahkan para dewa untuk memusnahkan burung tersebut. Tetapi burung merpati itu mampu melawan dengan menyemburkan bisa panas. Para dewa banyak yang jatuh pingsan, dan bangunan kahyangan meleleh karena bisa panas itu. Panasnya sepuluh kali lipat lahar gunung berapi.

Karena kahyangan Tengguru rusak parah, Batara Guru memutuskan untuk mengungsi ke arah timur. Semua dewa dan bidadari ikut serta, meninggalkan kahyangan Tengguru kosong begitu saja.

Perjalanan Batara Guru dan rombongan sampai di sebuah pulau yang sangat panjang. Burung merpati ciptaan Isa masih terus mengejar. Batara Wisnu tahu dan mengerti betul akan musibah tersebut dan mengapa sampai menimpa mereka. Batara Wisnu pun memejamkan mata, mengolah rasa dan berdoa. Batara Wisnu segera melepaskan senjata cakra ke arah burung merpati. Burung tersebut hancur, dan bangkainya jatuh di kaki gunung Merapi, dan berubah menjadi telaga yang jernih airnya.

Para dewa dan bidadari tidak tahu apa yang terjadi. Karena haus dan merasa panas, mereka pun meminum air telaga tersebut. Ternyata telaga itu mengandung racun yang sangat mematikan. Satu persatu para dewa dan bidadari roboh tak sadarkan diri, kecuali Batara Guru dan Batara Wisnu.

Batara Guru kemudian menghisap semua racun yang ada dalam telaga itu untuk mengamankannya. Racun tersebut akhirnya bersarang di kerongkongannya sehingga mengakibatkan leher Batara Guru belang berwarna biru. Sejak saat itu pun ia terkenal dengan sebutan Batara Nilakanta.

Batara Wisnu pun mengambil tetesan air Tirtamarta Kamandalu dan menyadarkan semua dewa dewi yang terluka.

Batara Guru kemudian terbang di angkasa mengendarai Lembu Andini untuk mengamati pulau panjang itu. Pulau tersebut sangat panjang, membentang dari daerah Aceh sampai Bali. Karena sangat panjang, Batara Guru pun memberinya nama pulau Jawa.

Batara Guru kemudian mendirikan gunung yang cocok untuk mendirikan kahyangan baru. Gunung tersebut bernama gunung Mahendra. Kahyangan baru pun berdiri, dan diberi nama oleh Batara Guru, kahyangan Argadumilah.

Setelah 15 tahun berkahyangan di Argadumilah, Batara Guru mendengar kabar bahwa Isa telah meninggal dunia. Ia pun mengajak semua dewa dan para bidadari untuk meninggalkan pulau Jawa, kembali ke pegunungan Himalaya.

Namun kahyangan Tengguru rusak parah akibat serangan burung merpati ciptaan Isa dulu. Maka Batara Guru pun membangun kahyangan baru di puncak lain Himalaya, yaitu di gunung Kelasa. Kahyangan tersebut diberi nama Kahyangan Jonggrisalaka, karena memancarkan cahaya berwarna keperak-perakan.


^freshly^
cerita dalam pewayangan
(himpunan dari berbagai sumber)

Share this article :
0 Komentar Blogger
Silahkan Berkomentar via Facebook
Silahkan Berkomentar via Blogger

0 komentar :

Posting Komentar

 
Support : Kaskus | Facebook | Twitter | Kompasiana
Copyright © 2013. freshly's blog - All Rights Reserved
Kunjungi saya di Google+
Proudly powered by Blogger